Tuesday, February 16, 2016

Nonton UseeTV Ngabisin Kuota Indihome?

Jawabannya : NGGAK!


Udah gitu aja sih ...




Mau tau kenapa?
Yakin mau baca ampe beres?
Janji ya bacanya jangan setengah - setengah :D

Wednesday, February 10, 2016

Menyoal FUP Indihome


Belakangan ini banyak yang mempermasalahkan pemberlakuan kebijakan FUP alias Fair Usage Policy di jaringan internet indihome. Sebenernya kalo boleh jujur sih hampir semua ISP menerapkan aturan ini karena konon disuruh oleh pak mentri terdahulu untuk "menjaga kualitas layanan internetnya" Tapi entah kenapa hal ini dikemudian hari diterjemahkan menjadi pembatasan akses unlimited atau internet berquota dibawah payung FUP. Pusing??? Sama, saya juga mumet :D #mikirkeras
See... nggak cuma indihome aja kan yang memberlakukan FUP

FUP atau Fair Usage Policy sebenernya jika diterjemahkan adalah batas pemakaian wajar dalam jumlah dan rentang waktu tertentu. Di beberapa ISP ada yang kemudian menerjemahkan FUP ini adalah pembatasan penggunaan volume based, ada juga yang memberlakukan pembatasan kecepatan (traffic shaping) dan ada juga yang melakukan pembatasan dengan melakukan pemblokiran port tertentu (kalo kamu sering download pake torrent pasti kesel sama kebijakan yang ini). Nah, Indihome sendiri memberlakukan kebijakan FUP dengan acuan pemakaian volume. Lebih jelasnya bisa dilihat dalah tabel berikut ini :

Pertanyaan selanjutnya, fair-kah kebijakan ini?
IMHO, kebijakan indihome ini sangat fair untuk penggunaaan internet rumahan. Kenapa? Karena :
  1. Batas fair usage yang ditetapkan sebelum penurunan kecepatan internet menurun sangat - sangat besar. Contohnya untuk pelanggan fiber 10 mbps akan mendapatkan 300 GB dalam sebulan, berarti sehari kamu bisa download & upload sepuasnya sampai dengan 10GB. Streaming youtube, download film bokep, ngepatch game, fesbukan dll sampe muntah - muntah juga nggak bakalan abis.
  2. Speed yang diturunkan setelah batas fair usage tercapai masih sangat kencang. 75% dari 10 mbps itu adalah 7.5 mbps, untuk 50 mbps kamu masih dapet 37.5 mbps. Coba kamu bandingin sama ISP seluler misalnya yang menetapkan speed setelah FUP tercapai hanya 64 kbps. Gile bener, hari gini 64 kbps cuma bisa WA & BBM-an, kelaut aja deh :P
  3. Transparansi batas penggunaan yang jelas dan pemberlakuan FUP yang jelas. Usage info indihome dapat dilihat disini : http://www.indihome.co.id/usage-info . Coba bandingin sama firstmedia atau fastnet misalnya. Pemberlakuan traffic shaping sangat tidak jelas dan tidak ada informasinya.
Sebenernya kalo mau fair coba deh bandingin semua ISP. Trust me, i've done this... Saat ini saya berlangganan indihome 20 mbps. Menurut saya indihome ini yang paling worth the money...  ISP lain banyak yang menawarkan harga lebih murah, tapi sayangnya banyak limitasi. Contoh firstmedia/fastnet. Layanan ini nggak bisa dibuat CCTV atau masang remote server di rumah

Belom lagi kalo kita mau share di rumah harus nambah wireless router sendiri yang jelas - jelas tidak direkomendasikan. Plis deh ... hari gini ... dan yang penting adalah tidak bisa untuk warnet...

Atau coba ISP MyRepublic (dulu namanya innovate). Selain coveragenya terbatas, ISP ini paling lelet masalah penanganan gangguan, bisa berhari - hari baru bener lagi. Sampe tetangga saya balik lagi langganan indihome karena service MyRepublic ini nggak jelas. Oh iya, kalo kamu langganan MyRepublic, kamu bakalan dapet IP private dynamic, bukan IP public. Buat sysadmin kayak saya paling sebel kalo nggak dikasih IP public :D
 FUP Indihome vs. Firstmedia

Udah deh, emang paling bener langganan indihome. Coveragenya paling luas dan bandwidth paling fair. Balik lagi sebenernya apa sih yang kamu cari dari layanan internet? Cuma sayangnya promo yang dibuat oleh pihak telkom hanya menyasar pelanggan baru saja. Sementara pelanggan lama & loyal kayak saya dicuekin. Saya sudah menjadi pelanggan internet speedy dan akhirnya menjadi indihome sejak tahun 2004 akhir. Di saat itu speedy masih volume based 500 MB dengan speed up-to 384 kbps. Sampe sekarang sudah lebih dari 10 tahun berlangganan ngiri banget sama pelanggan baru yang selalu dapet gimmick promosi. Sementara saya nggak pernah dapet gimmick apa - apa. Mungkin ini yang menyebabkan fenomena cabut-pasang untuk mendapatkan gimmick.

Tuesday, February 9, 2016

4 Kebijakan Tidak Populer Telkom Indonesia di Awal 2016

Memasuki awal tahun 2016 ini saya sebagai pelanggan setia Telkom Indonesia dibikin terkaget - kaget, mungkin diantara kamu juga bisa jadi sampe terkencing - kencing :P Apa aja sih kebijakan yang nggak populer itu ?

Diblokirnya Netflix di jaringan Telkom Grup
Memasuki tahun 2016 Netflix mulai melebarkan sayapnya ke 130 negara termasuk Indonesia. Saya sempet nyobain, sebenernya lebih ke arah penasaran. Tapi sayang kurang komplit kontennya dibanding  negara asalnya. Namun tiba - tiba di akhir januari 2016 netflix diblok di jaringan telkom grup. Hal ini sempat menimbulkan pro dan kontra. Telkom sendiri berdalih bahwa langkah ini diambil untuk melindungi konsumen. Sampe - sampe ISP lain seperti myrepublic & firstmedia memancing di air keruh dengan merayu pelanggan indihome untuk beralih menggunakan layanannya karena netflix tidak diblok.
Apapun alasannya yang jelas langkah disruptive Telkom ini mampu membuat netflix bertekuk lutut, sempet dikabarkan juga saham netflix turun setelah diblok oleh Telkom di Indonesia.

Saran saya sih seharusnya Telkom bermain cantik, misalnya dengan melakukan pembatasan traffic ke netflix melalui PCRF. Secara gitu harga bandwidth internasional kan muahall banget, belom lagi bayarnya musti pake devisa negara... rugi kan ... :D


Diberlakukannya FUP (Fair Usage Policy) di layanan internet indihome
Sudah bukan rahasia lagi kalo akses internet indihome sering digunakan untuk warnet, rt-rw-net atau dipake buat download bokep film bajakan terus dijual lagi. Apalagi dengan akses internet fiber dan bandwidth minimal 10 mbps makin whuzz aja. Nah mungkin ini yang bikin gerah Telkom sebagai penyedia jasa internet retail. Seharusnya doi bisa jual ke rumah - rumah, tapi makin susah karena ada "mini isp" yang jualan akses internet juga dengan backbone indihome juga.

Masih inget nggak sih dulu akses internet speedy dibagi menjadi 3 : Speedy home (dengan quota 500MB), speedy office dan speedy warnet (keduanya unlimited) namun memiliki harga jual yang berbeda. Ujung - ujungnya sih user akan terus mengakali gimana caranya untuk mendapatkan tarif langganan yang termurah.


Balik lagi ke masalah FUP alias Fair Usage Policy ini, sebenernya untuk pelanggan rumahan nggak perlu khawatir, lha wong quota yang ditetapkan sebelum FUP ini berlaku adalah 300GB, artinya sehari kamu bisa puas download & streaming bokep ataupun main game sampai dengan 10GB. Lagipula jika seandainya FUP tercapai, maka speed diturunkan menjadi 75% dan kalo masih bandel jadi 40% , mari kita hitung. Untuk pelanggan 10 mbps, speed jika FUP tercapai adalah menjadi 4 mbps. masih cukup lega untuk streaming, download, gaming & browsing. Coba deh kamu bandingin sama FUP yang diberlakukan oleh operator seluler. Udah mah quotanya dikit, eh speed FUP cuman dikasih 64 kbps. Hari gini 64 kbps mah cuman bisa buka whatsapp & telegram doang ..

Jadi saran saya kalo kamu user rumahan, biarpun pemakaian internet kamu tergolong heavy user (kayak saya) seharusnya nggak perlu khawatir dengan pemberlakuan FUP ini. Justru yang harus khawatir adalah pemilik warnet, rt-rw-net maupun kantoran. Secara gitu, nama produknya juga indihome, jadi buat rumahan. Kalo untuk pemakaian seperti di atas sebaiknya langganan produk lain. Astinet contohnya, produk ini memang di dedikasikan untuk pelanggan kelas enterprise. Harganya-pun ajib banget :D

Kalo kamu penasaran pengen ngecek berapa sih pemakaian internet sampai dengan tanggal bulan berjalan. Kamu bisa cek di link ini : http://www.indihome.co.id/usage-info

 
Ini hasil pengecekan usage internet saya. Gede kan... #KamiTidakTakutFUP :D

Konon pengguna internet indihome melalui media tembaga dengan kecepatan 1-5 mbps tidak terkena kebijakan ini... Tuh kurang asik apa lagi coba ...


Hilangnya channel HBO group di lineup UseeTV cable
Lho kok cenel saya tiba - tiba ilang banyak? Atau tiba - tiba jadi error 2003 karena tidak berlangganan? Eits... jangan buru - buru dulu lapor ke 147, karena ini sebenernya bukan gangguan. Salah satu gimmick yang diberikan indihome untuk menarik calon customer adalah memberikan channel gratis, hal ini tertera jelas di brosurnya. Pun juga perihal penggantian channel lineup. Namun sayangnya hal ini kurang dikomunikasikan aktif oleh setter maupun teknisi di lapangan.

Jangankan gitu, saya malah sering banget nemuin pelanggan indihome yang tidak memaksimalkan fitur useetv-nya seperti TV on Demand, video on demand, karaoke dll. Padahal sayang banget, teknologi iptv tu unggulnya di time shift dan di catch-up play, kalo nggak dipake apa bedanya sama teknologi DTH (Direct to Home) yang pake antena payung/antenna piring :P

Jadi kalo banyak anggapan bahwa "saya hanya butuh akses internetnya aja, nggak perlu tvnya". Ente belom kerasa aja enaknya nonton tv on demand bos... bisa nonton 7 hari ke belakang semua channel (nggak cuma cenel tertentu aja), iklan bisa di skip & bisa nonton marathon :P


Naiknya biaya sewa STB dan ONT sebesar 30.000
Dulu inget nggak sih, kalo langganan telpon kita dibebani yang namanya biaya abonemen? Nah sekarang ini abonemen sudah ditiadakan, namun diganti istilahnya dengan sewa CPE. Wajar aja sih, secara teknologi fiber itu nggak murah. Coba deh bandingin head-to-head sama penyelenggara internet fiber yang lain. Biaya pasangnya aja bisa ratusan ribu. Belom lagi kalo mau beli modem fiber & STBnya, kalo ditotal harganya bisa 4 jutaan.

Emang sih, dulu kita keenakan dengan kebijakan bahwa setiap berlangganan perangkat cpe dipinjamkan. Namun ketika berhenti berlangganan perangkat tersebut diambil kembali oleh Telkom.


**Tambahan
Sebenernya masih banyak isu - isu lain yang diangkat sehingga bikin nama indihome makin beken, diantaranya adalah soal cabut layanan indihome maka telepon juga ikut dicabut. Sebenernya ini mungkin berlaku untuk pelanggan yang menggunakan fiber sebagai media aksesnya. Karena untuk line telepon, internet dan TV sudah teintegrasi dalam 1 homegateway (ONT), sehingga jika fibernya dicabut otomatis semua layanan akan dihentikan. Sementara jika kita masih berlanganan melalui media akses tembaga, hal ini masih bisa dihindari.

Tapi hari gini masih ada yang butuh layanan fix phone gitu?? (selain buat verifikasi kredit & buat kantor ya) :D

Friday, January 22, 2016

Naik KRL 12 Gerbong = Lama Sampenya

Konon rangkaian KRL 12 kereta ini dibuat untuk mengurangi ke-berjubel-an commuterline arah Bogor-Jakarta kota yang kian hari kian ganas... Apalagi di jam berangkat & pulang kantor. Sejak rangkaian ini mulai beroperasi tanggal 16 September 2015 rasanya belom pernah kesampean naek ini rangkaian. Soalnya jadwalnya rada aneh, berangkat dari bogor jam 07.00, 10.27, 14.00, dan 17.42, sementara berangkat dari Jakarta Kota 08.42, 12.06, 15.45, dan 19.42. Belum lagi kalo jadwalnya molor ... bisa makin gak jelas tuh jadwalnya.

Suasana Stasiun Manggarai di jam pulang kantor


Nah ceritanya kemarin, 21 Januari 2016 akhirnya kesampean naek rangkaian 12 kereta ini. Setelah terjadi keterlambatan yang parah, kereta ini baru berangkat dari manggarai jam 17.45 (seharusnya 16.05) gila, ampir 2 jam molornya!

Pengalaman pertama rasanya hampir sama aja kayak naek rangkaian 8 atau 10 kereta. Cuma bedanya kalo 8 kereta rasanya bejubel banget, nah giliran 12 rangkaian ini dateng langsung sapu bersih peron stasiun, soalnya semua penumpang terangkut. Tapi nggak asiknya adalah kereta ini jalannya lebih lambat dibanding rangkaian 8 gerbong maupun 10 gerbong. Mungkin masinisnya lebih hati - hati karena bawa rangkaian panjang kayak uler lebih beresiko anjlok di tikungan kalo ngebut :D selain itu waktu yang dibutuhkan transit di setiap stasiun juga lebih lama, karena penumpang yang naik & turun lebih banyak. Belum lagi di beberapa stasiun seperti cawang dan pasar minggu panjang peronnya tidak mencukupi, jadi 2 gerbong di belakang nggak kebagian peron (mesti jago loncat) :))

Overall sih setelah ngerasain rangkaian 12 kereta ini kayaknya saya kapok. Soalnya waktu tempuh yang dibutuhkan lebih lama. Bayangin aja, biasanya manggarai - depok ditempuh dalam waktu 38 menit (tanpa gangguan dan antrian) nah kalo pake rangkaian 12 gerbong ini bisa hampir 1 jam.

Usul nih, sebaiknya daripada menambah panjang jumlah gerbong lebih baik nambah frekuensi perjalanan aja. Saya rasa rangkaian 10 gerbong udah paling pas dalam kondisi sekarang ini. Selain itu stasiun transit manggarai sebaiknya di solusikan dengan meminimalkan crossing antar jalur biar nggak makan waktu tiap rangkaian keluar/masuk stasiun ini.